A. Pengertian Dipteri
Difteria atau difteri adalah penyakit infeksi bakteri yang biasanya mempengaruhi membran lendir pada hidung dan tenggorokan. Gejala Difteri seperti tenggorokan serak, demam, pembengkakan pada kelenjar dan melemahnya tubuh. Tanda yang terlihat jelas adalah lembaran kental, berwarna abu-abu yang menutupi bagian belakang tenggorokan dan dapat menutupi saluran udara, serta menyebabkan kesulitan bernapas.
Pengobatan tersedia untuk difteri. Namun, infeksi difteri yang sudah memasuki tahap serius dapat merusak jantung, ginjal dan sistem saraf. Walaupun pengobatan tersedia, difteri bisa sangat berbahaya dan menyebabkan kematian. 3% orang yang terkena difteri berujung pada kematian. Biasanya risiko terkena difteri semakin tinggi untuk anak di bawah 15 tahun.
B. Penyebab Dipteri
Penyebab difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae dan menular melalui:
1. Partikel udara:
Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, partikel bakteri akan tersebar ke udara. Orang yang kemudian menghirup udara tersebut dapat terkena infeksi bakteri. Bakteri akan menyebar dengan sangat cepat, terutama dalam tempat yang ramai.
2. Barang pribadi yang terinfeksi:
Seseorang dapat tertular apabila menggunakan peralatan makan atau minum yang sama dengan orang yang terkena difteri. Hal yang sama juga dapat terjadi jika memegang tisu atau barang lain tempat bakteri mengendap, dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.
3. Barang-barang di rumah yang terkontaminasi:
Walaupun kasus ini jarang ditemukan, difteri dapat menyebar melalui barang rumah yang dipakai bersama seperti handuk atau mainan.
Orang yang sudah terinfeksi bakteri difteri dan tidak dirawat, dapat menginfeksi orang lain tanpa sistem kekebalan tubuh yang kuat sampai 6 minggu, bahkan jika gejala difteri tidak terlihat pada orang tersebut.
Faktor Berisiko
Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi secara berkala.
Orang yang tinggal di tempat ramai atau memiliki kondisi tidak bersih.
Orang yang bepergian ke lokasi wabah difteri.
C. Gejala Dipteri
Gejala atau tanda dari difteri berikut ini biasanya muncul 2-5 hari setelah terinfeksi:
1. Lapisan kental berwarna abu-abu di pangkal tenggorokan.
2. Demam dengan suhu 38°C.
3. Badan terasa tidak enak.
4. Tenggorokan serak atau suara serak.
5. Sakit kepala.
6.Pembengkakan kelenjar pada leher.
7. Kesulitan bernapas dan pembengkakan kelenjar getah bening.
8. Sengau.
Jika memengaruhi kulit, penderita akan mengalami:
1. Bintik yang berisi nanah pada kaki, telapak kaki, dan tangan.
2. Bisul besar yang berwarna merah dan kulit terasa sakit.
KOMPLIKASI :
1. Masalah Pernapasan:
Difteri menyebabkan bakteri menghasilkan toksin atau racun. Toksin tersebut merusak area yang terinfeksi, biasanya hidung dan tenggorokan. Infeksi memproduksi lendir kental berwarna abu-abu yang terdiri dari sel mati, bakteri dan zat lain. Lapisan ini dapat mengganggu pernapasan.
2. Kerusakan Jantung:
Racun difteri dapat menyebar melalui pembuluh darah dan merusak bagian lain dalam tubuh, seperti otot jantung. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi seperti kelumpuhan pada otot jantung. Jantung yang rusak akibat miokarditis bisa bersifat sementara, muncul sebagai ketidaknormalan sampingan pada elektrokardiogram atau bisa parah, yang menuju gagal jantung dan kematian seketika.
3. Kerusakan Saraf:
Racun difteri juga dapat menyebabkan kerusakan saraf. Yang menjadi target utama adalah otot pada tenggorokan. Otot tenggorokan yang lemah dapat menyebabkan kesulitan dalam menelan. Otot pada tangan dan kaki juga dapat menjadi lumpuh, karena otot melemah. Jika racun difteri merusak saraf yang membantu mengontrol otot dalam pernapasan, maka otot ini akan mengalami kelumpuhan. Akibatnya, penderita menjadi lebih sulit bernapas tanpa bantuan respirator atau alat lain yang membantu pernapasan.
Dengan perawatan, banyak penderita difteri bertahan dari komplikasi ini, meski penyembuhan berjalan lambat. Sementara itu, sekitar 3% kasus difteri berakibat fatal.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, terutama jika ada faktor risiko seperti riwayat keluarga, obesitas, atau gaya hidup tidak sehat.
D. Pantangan Makanan dan Minuman
Penderita difteri sebaiknya tidak melakukan kontak dekat dengan orang lain untuk mencegah penularan, tidak berbagi alat makan, minum, handuk, atau barang pribadi, serta tidak mengabaikan pengobatan yang diberikan dokter. Selain itu, hindari berada di tempat ramai selama masa infeksi dan jangan menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh oleh tenaga medis.
E. Solusi dan Pengobatan
Penanganan kondisi kesehatan pada dasarnya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Secara umum, beberapa langkah berikut dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap stabil:
Sebagai pelengkap pola hidup sehat, Anda dapat mempertimbangkan penggunaan produk kesehatan yang mengandung bahan alami dan diformulasikan untuk membantu menjaga kondisi tubuh tetap optimal.
Rekomendasi Obat:
Agarillus Drop (3 x sehari 10 tetes), Celte (3 x sehari 1 sloki) dan Agarillus Squalene (3 x sehari 1 kapsul)
Produk yang Direkomendasikan:
F. Tips Kesehatan
Sebelum ada antibiotik, difteri adalah penyakit umum yang terjadi pada anak. Saat ini, penyakit ini bukan hanya dapat diatasi tetapi juga bisa dicegah. Vaksin difteri biasanya diberikan bersamaan dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam satu injeksi yang dikenal dengan nama DTaP. Vaksinasi dilakukan secara berkala pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15-18 bulan, dan 4-6 tahun. Vaksin difteri sangat efektif untuk mencegah infeksi difteri.


